Masalah Sampah Akan Membuat Korea selatan seperti Indonesia - info

Tuesday, October 9, 2018

Masalah Sampah Akan Membuat Korea selatan seperti Indonesia


Krisis Limbah Plastik Di Korea Selatan Akan Membuat sampah Menumpuka di jalan-jalan.


KOREA SELATAN: Cina merupakan importir sampah daur ulang terbesar dari Korea Selatan dan Hal ini telah terjadi selama bertahun-tahun , namun tahun ini Cina berhenti membeli sampah dari      Korea selatan dan Negara itu pun terjerat dalam masalah sampah. 
      Setelah Bejing Melarang Membeli sampah daur ulang dari korea selatan dan ini merupakan penyebab jatuhnya harga sampah palstik dan 48 perusahaan daur ulang Korea selatan menghentikan pengumpulan limbah plastic dan busa. Dan semua proses daur ulang di korea selatan tiba-tiba berhenti
       Kirisis ini telah berlangsung selama hampir dua minggu sampai kompromi dengan pemerintah tercapai untuk membantu keuangan perusahaan daur ulang. Masala Keuangan merupakan ciri khas industry daur ulang di korea selatan dan saat ini untuk tetap menjaga bisnis daur ulang tetap berjalan pihak yang berwenang menyediakan subsidi pengumpulan sampa plastic diman pemerintah akan membayar US$ 0.22 per kilogram limbah yang dikumpulkan
       Dan Hal ini membuat kota Cheongju , sekitar 110 km dari Seoul tetap bersih.Tapi suatu saat itu akan berubah ketika pihak pemerintah tidak sanggup lagi membayar subsidi.  Dan proses pengumpulan sampah pun akan berhenti.
       Salah satu proses yang dilakukan adalah sampah botol plasti yang dikompresi dan dikemas untuk pengiriman ke pendaur ulang domistik harus dicuci dan di robek-robek. Dan jika perusahaan tidak dapat bertahan jika subsidi tidak ada maka di hawatirkan limbah sampa ada dimana-mana.



      Mengurangi sampah adalah jalan yang lebih tepat dan untuk itu, Kementrian lingkungan hidup meluncurkan peraturan yang lebih ketat dalam menggunakan plastic, untuk mengurangi sampah platik hingga setengahnya dan mengangkat tingkat daur ulang domestic dari 34 persen menjadi 70 persen pada tahun 2030
    Menteri Lingkungan Kim Eun-kyung berkata: "Untuk menyelesaikan krisis limbah plastik, masyarakat secara keseluruhan perlu mengubah cara-cara produksi, konsumsi, daur ulang dan bahkan budaya."

     Dan Untuk mewujudkan ini,pembuatan minuman kemasan akan dilarang mengunakan botol plastic  berwarna dimulai pada 2020  karna dala proses daur ulang akan memakan biaya yang lebih mahal , dibandingkan dengan botol  yang tidak berwarna.
Dan  rencana lainnya adalah  menindak kemasan berlebihan. Dan setiap produk yang mengandung komponen berbahaya seperti polivinil klorida (PVC) akan dilarang, sementara produk plastik lainnya yang sulit didaur ulang akan dihapus secara bertahap.















No comments:

Post a Comment